Salah satu dari hobby saya adalah menulis cerita. Ini adalah salah satu karya saya yang saya buat ketika masih duduk di bangku SMA. Cerpen ini pesanan dari seorang teman saya yang ingin dibuatkan sebuah cerita pendek bertema cinta. Cerpen ini sudah pernah saya publish di catatan Facebook saya sebelumnya dan respon dari pembaca positif dengan cerpen ini. Maka dari itu silahkan dibaca, tapi sebelumnya saya beritahukan agar pembaca memaklumi tulisan saya yang sedikit kacau. hehehehe mungkin karena ini cerpen buatan saya yang sudah lama, ketika kemampuan saya dalam menulis tidak selumayan seperti sekarang.
check this out!;)
Lucas meraih kepalaku yang sudah mengantuk untuk menyandarkannya di pundaknya. Sambil memandangi orang-orang yang sedang menikmati suasana sore yang cerah ini seperti kami berdua. Di Central Park New York—Manhattan city. Kami duduk di atas rumput yang sudah dibalut tikar di depan patung kenamaan besar symbol kebebasan warga Amerika hasil karya dari pemahat Perancis Frederic-Auguste Bartholdi dan Gustave Eiffel (desainer menara Eiffel) yang pertama kali dibangun dan disusun di Prancis pada tahun 1874. Ya, apalagi kalau bukan Liberty—Patung Dewi kemerdekaan yang dipersembahkan oleh rakyat Prancis kepada rakyat Amerika sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Amerika yang ke 100.
“I love you…” Lucas membisikkan kata-kata itu ditelingaku. Aku tersenyum sambil menatap wajahnya.
“I love you too…” ucapku. Lucas semakin tajam mengarahkan mata elangnya menatap ke arah mataku. Wajahnya semakin mendekat, aku sudah bisa menebak apa yang akan dia lakukan. Aku pasrah sambil menutup mataku. Wajahnya semakin mendekat dan…
***
Kriiingg!!!
“Lucas…” aku mengigau ketika mulai terjaga dari tidurku yang berbuah mimpi ketika jam weker di samping kasurku berdering hebat.
“Ber!!” seseorang yang tidur disampingku berteriak. “cepet matiin ato aku lempar kaya kemaren!!” logat jawanya medok sekali meskipun masih tidur. Memang tidur ikut mempengaruhi cara bicara juga ya? Dalam pikiranku seperti itu.
Sambil setengah melek, aku meraba-raba buffet kecil disamping tempat tidurku. Ah! Ini dia. Sebuah jam weker butut dengan banyak tambalan solatip disana-sini sudah kupegang dan kumatikan agar tidak terus berdering. Takut-takut tambalan solatip itu akan bertambah banyak jika Hera—orang yang tidur disampingku tadi sampai membanting jam ini seperti biasanya.
Hera adalah teman satu kamarku. Aku indekos di rumah besar tante Mirna bersama dengan enam orang lainnya sudah satu tahun lalu, Setelah aku duduk di kelas satu SMA di daerah Jakarta Pusat. Rumah asliku, berada di Depok. Bukan karena sekolahku bagus, atau sekolah unggulan. Aku jauh-jauh sekolah karena ingin belajar mandiri saja.
Tiba-tiba, sesuatu muncul dalam ingatanku. Lewat begitu saja. Oh iya, bukankah tadi aku bersama dengan Lucass? Lucass Till? Artis Hollywood yang berperan jadi Alex. Pria muda paling cool di film hollywood X-Men itu. Aku terdiam, merenung mencoba mengumpulkan kesadaran. Ah, sial!! Ternyata Cuma mimpi!! Dasar weker sialan. Mungkin akan lebih baik jika aku tidak membenarkannya tempo hari lalu ketika weker itu hancur dibanting oleh Hera yang kebluk dan suka marah-marah. Ingin sekali aku banting lagi weker itu, tapi engga jadi deh! Sekarang bulan tua. Papa belum sempat kirim uang bulanan, jangankan buat beli weker baru, buat jajan di kantin sekolah aja udah seret. Lagipula, mungkin aku bakal disuruh lari sepuluh putaran dilapangan sekolah yang luas itu oleh Pak Ari, wakasek kesiswaan yang kerajinan menunggu siswa telat di gerbang sekolah. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya nasibku kalau weker bututku tersayang itu tidak susah payah mengeluarkan suaranya untuk membangunkanku. Meskipun suaranya sudah serak. Salahku juga sih, karena sudah lama tidak beli batere baru.
Aku jadi teringat dengan Jovan. Kalau saja dia bisa bersikap seromantis Lucas padaku. Aku jadi tersenyum sendiri. Hahaha, aku benar-benar sudah gila. Membandingkan pacarku sendiri dengan artis Hollywood kawakan. Dari mukanya saja sudah berbeda jauh. Secara harfiah maksudnya, Jovan mukanya ada di Jakarta, sedangkan Lucas mukanya ada di Amerika. Kalau membandingkan masalah ketampanan, sulit dibedakan. Kedua-duanya tampan.
“hahaha” aku melapas tawaku pelan. Hera melirikku dengan tatapan skeptis. Matanya masih memerah karena dia baru saja bangun. Dia seperti monster. Aku menutup mulutku. Aku rasa dia terganggu dengan tawaku meskipun sudah aku turunkan satu oktaf dari biasanya. “ma-maaf…” ucapku pelan.
Dia bangun dari tidurnya. Lalu duduk sambil menyandarkan punggungnya di sandaran single bed yang tadi ditidurinya. Matanya masih memerah. Kelihatannya dia marah. Tapi, tiba-tiba. “haaaah, selamat pagi Ber...” Ucapnya sambil menguap kemudian tersenyum, masih dengan logat jawanya yang medok. Tangannya menggisik-gisik matanya. “tidurku nyenyak banget, tumben wekermu ‘ndak bangunin aku.”
Aku tersenyum kecil. Orang ini benar-benar psikopat. Pikirku. Salah satu rumah sakit di Grogol pasti sibuk mencari pasien mereka yang hilang satu tahun lalu, mencari pasien yang benama Herawati Sekar Sutresno. “iya, pagi juga Her…” jawabku sambil berdiri dari kasur dan berjalan menuju pintu kamar, setelah sebelumnya menarik handuk kimono pink yang disampaikan di atas tempat handuk di dekat pintu kamar.
“koe mau kemana?” Tanya Hera padaku.
Aku berbalik. Dan menghela nafasku. “ini apa?” ucapku sambil mengangkat handuk kimono pink yang tadi kuambil di depan wajahnya.
Dia menjawab polos. “ya, handukmu…”
“jadi kalau aku ambil handuk berarti aku mau apa?” aku tersenyum padanya sambil tetap bersabar.
“ooh, mau nyuci ya?” jawabnya tetap dengan ekspresi polos. Tidak ada sama sekali wajahnya yang memperlihatkan dia sedang bercanda. Bahkan sebesar upil tikuspun tidak ada.
Astagfirullah, batinku. Anak ini benar-benar mempunyai kepribadian ganda, mungkin juga lebih. Pada pagi hari seperti ini, dia seperti orang blo’on. Tapi, lihat saja nanti di sekolah. Kelakuannya wuuiih benar-benar seperti intelek belagu. Dan ketika malam, siap-siap deh aku denger curhatan dia yang melankolis. Maka dari itu, meskipun satu kamar dengannya aku selalu menjaga jarak dari orang ini. Aku tidak dekat dengannya. Untungnya saja Nova, teman satu rumah kosan yang kamarnya bersebelahan dengan kamarku ini rajin menyuruh Hera masuk kamarnya. Maklumlah dua-duanya seperti anak alay yang baru punya pacar. Kerjaan mereka, kalau tidak curhat, berarti ngerumpi.
“ya nggalah. Kalau aku bawa handuk, berarti aku mau mandi…” terangku dengan jelas. “dan bukan mau nyuci.”
Hera mengangguk. “habisnya, handukmu kan sudah lama tidak dicuci…”
Geez. Erangku dalam hati. “Her, kamu tahu ini apa?” aku mengambil sebuah stiletto kuning ber-hak sedang miliknya.
Dia mengangguk. “itu stiletto kiriku.”
Aku mengangguk pasti. “bagus. Jangan biarkan aku berhasil memasukkan seluruh permukaan stiletto ini masuk ke dalam mulutmu.” Hera langsung menutup mulutnya. Aku beranjak dari kamar itu dengan membanting pintu sekeras yang aku bisa sebelumnya. Lalu berjalan menuju kamar mandi yang ada dekat dapur.
***
“siapa namamu?” tunjuk Pak Ari tepat di depan mukaku yang sedang kesal. Bukan kesal karena aku kesiangan. Itu juga benar sih, aku juga kesal karena hari ini Jovan tidak menjemputku dengan motornya, tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu. Tapi yang membuat aku kesal sekali sampai darahku terasa membuncak sampai ke ujung ubun-ubun kepala adalah ketika Pak Ari menunjuk-nunjuk mukaku seperti kali ini. Bukannya tidak menghormat, tapi aku tidak terima saja kalau wajahku ditunjuk-tunjuk oleh jemarinya yang jelek dan kukunya yang berwarna kuning gara-gara nikotin dari rokok yang sering dia hisap. Dia pikir aku siapa? Anak bau kencur yang kurang kunyit?
Aduuh. Aku tidak tahan. Ingin sekali aku tiup dengan keras telunjuk kanan guruku itu sampai telunjuknya terbang ke kutub selatan meninggalkan telapak tangannya yang masih berada di Indonesia. Lalu telunjuknya itu dipungut oleh orang Eskimo atau dimakan beruang kutub. Eh? Beruang kutub tidak ada di kutub selatan kan ya? Hahaha, aku lupa. Tapi yang jelas, dia pasti akan menangis ditinggal pergi telunjuknya tercinta itu. aku akan membelikannya permen, kemudian dia akan bersujud berterimakasih padaku. Hahaha, Tapi maaf, sekarang bulan tua, jadi aku gak jadi tiup telunjuknya.
“hey! Siapa namamu!!” Pak Ari mengulang ucapannya karena aku tidak kunjung menjawab.
“Berlian Pak. Berliana Nasution.” Jawabku seperti seorang tentara nasional Indonesia yang sedang di interogasi seniornya.
“hm, ya. Mana buku tertibmu?” Tanya pak Ari. Aku mengeluarkannya dari dalam tas. Lalu menyerahkannya.
“masih kosong ternyata. Kau pasti anak rajin.” Dipuji seperti itu, hatiku berbunga-bunga. Dengan sombongnya aku tersenyum-senyum di depan murid-murid lain yang sudah sering melakukan kesalahan terutama terlambat sekolah. “karena masih kosong, bobot pointmu 10.” Pak Ari menulis bobot itu di buku tertibku.
“a-apa?!” kagetku. “bukannya bobot point bagi siswa yang telat hanya 0.25?” aku protes tidak terima. Murid-murid lain yang tadi aku dongkolkan menahan tawa melihat bagian aku yang sedang dongkol. Aku menatap mereka sambil mengerling sinis. So what?
“iya, itu bagi murid yang sering telat. Kasihan kan kalau mereka bapak kasih bobot point 10, bisa-bisa mereka di DO hanya karena terlambat saja. sedangkan kamu kan baru kali ini, buku tertibmupun masih kosong.” Pak Ari cengengesan, sambil memberikan buku tertibku. Dia tidak sedang bercanda ternyata, dia benar-benar mencatatkan itu disertai dengan parafnya di buku tertibku. Oh tuhan… guru ini benar-benar baik sekali. Dia memperhatikan dengan seksama pada murid-muridnya yang selalu berbuat kesalahan, sehingga dia tidak ingin murid yang salah itu sampai di Drop Out dari sekolah ini. Aku salut, meskipun lambat laun aku bisa saja keluar dari sekolah ini kalau dia memberiku point besar setiap aku terlambat. Aku rasa dia senior dari teman sekamarku, Hera. Dia juga pasti kabur dari tempat penampungan di Grogol atau Cilendek. Ckckckck…
Tapi Ah, tidak. batinku menolak. ini juga salahku karena terlambat. Tapi tentu saja aku tidak akan terlambat kalau saja Jovan memberitahukan terlebih dahulu kalau dia tidak bisa menjemputku. Sehingga aku bisa mengatur wekerku untuk mengeluarkan suara seraknya yang disertai batuk-batuk itu satu jam sebelumnya. Ya, ini semua karena dia. Akan Kubunuh kau!! Muhammad Jovan Atmadipura, kau sudah membuatku memutar wekerku lebih satu jam. Kau telah masuk dalam Black listku.
***
Bu Iska yang tambun itu masuk ke dalam kelasku, kelas XI Sosial 1. kelas favorite. Tentu favorite bagi penghuninya yang abnormal, karena kelas favorite di sekolah ini bukanlah kelas kami. Tapi adalah kelas XI Sosial 3 yang berisi dengan manusia-manusia monoton dan membosankan yang kerjaannya berkutat dengan buku akuntan seperti penagih hutang.
Bu Iska adalah guru bahasa Inggris yang menjabat sebagai wali kelas kami. Dia berbadan tambun, namun wajahnya cantik mirip dengan Britney spears yang sudah disuntik botox pada usia 60 tahun. Sehingga wajahnya masih tetap kencang sekalipun tidak mirip dengan Britney spears edisi muda. Dia berperangai baik, dan sabar. Nilai tambahnya adalah dia murah senyum. Kami sekelas sangat menyayangi bu Iska. Meskipun aku dan semua anak perempuan kelas XI Sosial 1 tidak mengidap virus lesbian.
Kali ini, bu Iska melangkahkan kakinya masuk diikuti dengan seorang remaja tampan yang jika aku nilai, kadar ketampanannya sama dengan Jovan—pacarku yang duduk disebelahku. Itu tandanya, dia sudah memenuhi criteria jika ingin melamar jadi artist Hollywood. Karena, Jovan sendiri memang tampan—serius.
“anak-anak… kita kedatangan murid baru dari bandung. Ibu harap, kalian bisa bekerjasama dan bersosialisasi dengan baik terhadapnya.” Jelas Bu Iska pada murid-murid didiknya ini. “silahkan perkenalkan namamu…”
Murid itu melangkahkan kakinya satu langkah ke depan. “ehm.” Dia mendehem, seperti seorang pembicara politik yang beralih profesi menjadi penyanyi dangdut. “nama saya, Lilo Abrar Prasetya. Senang bisa berkenalan.” Dia tersenyum.
Giofandi ketua kelas yang super ngocol mengacungkan lengannya. “interupsi! Jika ingin diterima dengan baik, kamu harus menjawab beberapa pertanyaan interview yang akan kami sebutkan. Pertama-tama, jelaskan kamu berasal dari sekolah mana?” Tanya ketua kelas itu, belaga bicara dengan gaya professional, padahal menurutku bahasanya acak-acakan sekali.
“saya dari SMA Tunas Harapan Bandung.” Lilo menjawab dengan singkat.
“status?” kali ini suara seorang perempuan yang bertanya entah siapa. Wah, percakapan ini sudah ngelantur. gumamku
“baru saja bubaran.” Dia menjawab singkat lagi.
“kenapa?” kali ini kompakan hampir semua murid bertanya karena penasaran.
Meskipun pertanyaan yang diajukan sudah sangat kelewat batas privasi, Lilo—anak baru itu malah enjoy dengan pertanyaan-pertanyaan yang gencar diajukan kepadanya. Dia malah tersenyum senang. Sepertinya dia berpikir bahwa dia akan mudah akrab dengan murid-murid kelas ini. Tapi maaf saja ya, mungkin agak susah jika ingin berteman denganku. Bukannya aku sombong atau malu untuk menyapa, tapi remaja laki-laki yang duduk disampingku ini loh. Melotot seolah-olah berkata padaku agar tidak terlalu dekat dengan murid baru itu. aku mengangguk-ngangguk saja. Mungkin dia takut kalau aku akan suka pada murid baru ini. Hihihi, dia cemburu.
Anak baru itu menjawab. Masih dengan senyumannya. “kami tidak sanggup jika LDR an.”
“wooooooow…” anak-anak pura-pura antusias.
Bu Iska menggeleng-gelengkan kepalanya melihat bagaiamana anak didiknya ini begitu kocak. Dia segera menyudahi interview singkat ini. Dan mempersilahkan si anak baru untuk duduk di bangku kosong bagian belakang. Dia berjalan melewati bangkuku yang berada di tengah.
“Hmmm, tampan ya…” gumamku. Jovan melirik wajahku dengan ekspresi dingin. “kenapa?” tanyaku sinis. Aku benar-benar kesal dengannya, sikapnya memang seperti ini. Cuek. Dan kecuekannya itu memberikan kesialan bagiku, contohnya tadi pagi.
“kamu suka dia?” Tanya Jovan. Dasar Jovan, cemburu kok keliatan.
“tidak tahu deh…” jawabku. lalu beranjak dari tempat dudukku, berjalan ke belakang dan bertukar tempat dengan Rahma. Jovan melepas bola matanya sehingga mengikuti apa yang kulakukan. Aku benar-benar marah padanya.
Jovan terus menatapku, aku memalingkan muka. Terus seperti itu sampai jam pelajaran berakhir.
***
Jam kedua adalah olah raga. Aku sudah tidak melihat Jovan lagi di kelas. Dia pasti sudah menghambur ke lapangan setelah mengganti bajunya dengan baju olahraga di kamar mandi sekolah. Anak itu, apa tidak merasa dia punya salah apa? sepertinya dia sama sekali tidak menghiraukan kemarahanku tadi.
Tapi, aku mengerti kenapa Jovan seperti ini. Karena ini pelajaran olahraga. Ya, pelajaran olah raga adalah pelajaran yang paling disukainya terlebih olahraga bola besar seperti sepak bola, dan Basket pastinya. Jovan mungkin rela meninggalkan sebuah undian berhadiah mobil Mercedes dalam lomba yang sudah tentu dia yang akan menang jika lomba itu berbarengan jadwalnya dengan kegiatan basket atau sepak bola.
Aku duduk di dekat semak-semak bunga. Duduk diatas rumput hijau di bawahnya setelah aku selesai senam dan bermain basket yang sama sekali tidak aku kuasai. Jadi, lebih baik aku duduk saja menonton teman-temanku yang sedang asyik berebut bola. Khususnya menonton performance Jovan yang sangat brilian dalam memegang bola basket sehingga tidak sampai diraih oleh tim lain. Sementara perempuannya, aku tidak tertarik, mereka hanya bermain-main saja di sisi lapang. Sampai berteriak-teriak centil.
“kak Jovaaaannn!!!” anak-anak kelas X meneriaki Jovan. Wajah-wajah mereka sudah aku kenal. Yang berambut keriting karena di curly dengan catokan curly murah buatan cina bernama Cinta. Yang rambutnya lurus seperti penyanyi dangdut keliling namanya Suci. Yang berhidung mancung dan bermata belo namun bibirnya sedikit dower namanya ratu. Dan yang terakhir, seorang gadis berambut sebahu, tinggi dengan kaki jenjang, tubuh yang proposional, mata yang sendu sayu dengan bola matanya yang biru, hidung mancung seperti orang barat, dan kulit yang putih karena dia indo campuran, namun giginya tonggos namanya Diana. Mereka semua adalah anggota cheerleaders sekolah. Entah bagaimana ekskul itu mengaudisi anggotanya sampai-sampai barang reject seperti mereka bisa diterima. Padahal masih banyak cewek cantik berbakat di sekolah ini, seperti aku contohnya. Tapi maaflah, aku tidak minat jadi anggota cheers.
Selain anak-anak kelas X, beberapa gadis dari kelas XI dan XII pun menatap Jovan dengan antusias, namun mereka tahu diri, tidak teriak-teriak seperti anak kelas X. mungkin karena gengsi kali, apalagi anak XII kan seniornya Jovan. Masa harus meneriaki Juniornya sendiri. Aku kenal mereka, kenal benar malah. Mereka adalah cewek-cewek yang selalu menatap sinis padaku. Entah sirik karena kecantikanku sehingga bisa mendapatkan Jovan, atau karena aku cewek beruntung disebabkan selera Jovan yang rendah. Entahlah…
Tiba-tiba, seseorang memegang pundakku dari belakang. Aku seketika menoleh. Anak-baru itu, Lilo sedang tersenyum padaku. Wajahnya basah penuh keringat. Baru saja aku melihat dia sedang asyik bermain dengan Jovan dan kawan-kawan. Kok bisa ya? Dia tiba-tiba saja muncul di belakangku. Mungkin karna aku teralu memperhatikan Jovan sehingga dia lepas dari pengamatanku.
“Hey, Ber!” sapanya. Aku tersenyum saja sambil mengangguk. Darimana dia tahu namaku. “kok gak ikut gabung anak cewek?” tanyanya. Dia merogoh saku celana trainingnya, mengeluarkan tissue desinfektan lalu mengelapkan pada wajahnya. Dari yang dilakukannya aku jadi tahu bahwa dia adalah cowok apik. Hahaha, setidaknya sekarang tidak hanya aku yang selalu membawa tissue desinfektan.
Aku menjawab sekenanya yang aku bisa. “cewek-cewek itu? yang hobbynya teriak-teriak kalau bolanya kena tangan, muka, pokoknya anggota badan mereka? haduuuh, pikir dua kali deh aku.”
Lilo tersenyum. Wajahnya sudah bersih dan segar. “ahahahaha, kamu lucu juga ya. Padahal aku pikir kamu itu pendiam sekali.”
“benarkah?” yakinku so antusias, padahal sebenarnya aku sudah terlalu sering mendengar ungkapan ini. Aku juga harus bersikap diplomatis agar tidak mengguncang emosionalnya. Setidaknya itu yang aku tahu, dari buku character building yang tidak sengaja aku baca di toko buku karena plastic bukunya yang sudah terlepas itu mendorongku untuk membaca isinya. Mungkin itu salah satu petunjuk dan anugrah yang diberikan Tuhan padaku agar aku bisa sedikit berbicara ilmiah.
“heem.” Angguknya. Tangannya membetulkan rambutnya yang basah karena keringat. Seperti gaya pemain sepak bola yang sekarang bekerja ganda menjadi bintang iklan shampoo, meskipun wajahnya sangat berbeda. “kau asyik diajak bicara.”
“oh ya?” kali ini aku benar-benar antusias. Karena baru kali ini ada seseorang yang mengatakan hal seperti itu padaku. “aku pikir kau orang yang lugu. Ternyata kau berani juga ya, berkenalan denganku…” aku sedikit bercanda.
“Hah?” Lilo terkejut. Dan aku tahu ekspresi keterkejutannya itu hanya tingkah lebaynya yang dipraktekan setelah menonton performance abang sule di layar televisi tadi malam. Aku yakin, wajah abang sule yang di zoom in camera itu membuat Lilo terkejut dan terganggu, sampai Lilo begitu fasih dan lancarnya mengikuti tingkah abang Sule yang sekali lagi aku yakin disebabkan alam bawah sadar Lilo secara refleks mengikuti tingkah orang yang sepertinya sangat diidolakannya—Sule. “sepertinya aku lancang ya? Yasudahlah aku pergi.” Lilo hendak beranjak dari duduknya. Tapi kemudian aku memegang pergelangan tangannya.
“eh, eh, eh… aku Cuma bercanda… hahaha” ucapku agar dia tetap tinggal. Aku melirik Jovan, ternyata dia menatapku yang sedang memegang pergelangan tangan Lilo. Mungkin dia merasa tidak aku semangati atau tidak kuperhatikan, sehingga tatapannya seperti menusuk tajam ke ulu hatiku. Tapi, aku tidak peduli. Hampir semua cewek di SMA ini menyemangatinya kok. So, aku tidak usah lagi menyemangatinya, kan sudah diwakilkan.
“Baiklah…” ucap Lilo. Dia kembali duduk disampingku. “eh, kau tidak keberatan kan?” tanyanya memastikan.
“apa?” aku tidak mengerti.
“seragam olah raga ini membuatku sangat panas…” tanpa mendapat izin dariku, dia membuka kaos melalui lehernya. Ya ampuun, aku benar-benar tidak menyangka. Aku melihat dia telanjang dada, badannya bagus bagi ukuran anak SMA. Padahal aku sendiri belum pernah melihat Jovan bertelanjang dada seperti ini. Aku memalingkan wajahku, memusatkan kembali perhatianku ke arah lapangan. Tapi, sepertinya Jovan sangat kesal. Dia melemparkan bola basket yang sedang dipegangnya sambil berlalu pergi, setelah melihat Lilo membuka bajunya di depanku. Aku jadi merasa bersalah.
***
Hari ini aku bertemu dengan Hera di koridor sekolah, dia bersama dengan Nova. Mereka berdua tidak sekelas denganku. Jadi aku merasa bersyukur, karena setidaknya aku sudah bisa menghindar dari sikap aneh dua anak itu. “Hai Ber!” sapa Nova, sementara Hera hanya sibuk dengan buku mateknya tanpa menghiraukan kedatanganku. Belagu sekali. Pikirku. Tapi aku tahu kenapa dia selalu bersikap begitu belagu ketika di sekolah. Mau tahu kenapa? Karena dia malas membuka mulut. Kalian tahu sendiri kan? Kalau setiap kali dia berbicara pasti ucapannya terdengar sangat medok, semedok bumbu kacang dari gado-gado yang kebanyakan gula dan kacang gosong.
“eh, hai.” Jawabku pada Nova. “kalian lihat Jovan?” Tanyaku pada dua orang itu, sekalipun aku tahu yang mendengar hanya Nova saja karena telinga Hera dicocok pake speaker aktif yang suaranya terdengar sampai ke neo cortexku.
“tadi aku lihat di kantin.” Jawab Nova. “kenapa? Berantem ya? Tumben banget gak barengan.”
“ahahaha, engga kok. Makasih ya. Aku pergi dulu…” ucapku kepada Nova sambil menepuk punggung cewek berbadan kecil itu. Nova tersenyum.
Aku terus berjalan, melihat Jovan sedang sendirian memakan es krim favoritenya, es krim vanilla dari kantin koperasi. Dia sudah ganti baju. Wajahnyapun sudah kembali bersih. Aku suka dia seperti itu. kelihatan steril. “hai, Jo…” sapaku sambil duduk di depannya.
Jovan terus memakan es krimnya. Dia tidak menjawab. Aku benar-benar dicuekin. Sepertinya aku seperti seonggok manekin tak berarti yang tiba-tiba muncul di depannya. Matanya hanya melihat sekilas saja. Sekilas layaknya mobil xenia yang dikendarai afriyani tanpa berhenti menabrak korban. Bedanya, matanya itu tak juga berhenti tepat dimataku atau wajahku.
“kau marah?” tanyaku. Aku benar-benar tidak suka keadaan seperti ini. pada ujungnya harus aku juga yang meminta maaf.
“tidak tahu deh…” jawabnya singkat. Geeez sebal rasanya mendengar respon yang hanya terdiri dari tiga baris kata seperti itu. tanganku benar-benar gatal. Kekanakan sekali. Ingin aku menjambak dan melindas rambutnya dengan tank biar rontok. Atau memukul mukanya dengan palu godam agar penyok tak beraturan. Tapi, disini hanya ada mangkok, sendok, botol kecap, dan saos saja. Kalau aku pakai untuk memukul Jovan, tentu aku tidak mau. Bukannya tidak berani. Gila apa? bisa-bisa aku disuruh ganti rugi, apalagi jika ingat ini bulan tua…
“yasudah.” Ucapku akhirnya. “silahkan marah padaku. Aku tidak akan muncul dekat kamu kok. Takut-takut kamu malah jadi sebal liat muka aku.” Aku berkata seperti itu karena sudah capek sekali. Maklumlah aku orangnya tidak sabaran, apalagi kalau sudah bulan tua, maaf aku mengulangnya terus. Tapi memang hal itu membuatku sangat sebal. “jangan lupa telpon atau kirim pesan kalo kamu udah gak marah lagi ya? Semoga aku masih waras buat ngangkat dan balas pesan kamu.” Aku memasang wajah sebal pada kalimat terakhir. Jovan terdiam, melihatku ketika aku pergi.
“Ber!!” Panggilnya. Aku tersenyum, hal ini sudah kuperhitungkan. Aku berbalik menatapnya, dengan tatapan pura-pura sebal.
“Apa?” tanyaku.
“aku tidak marah ko…” ucapnya sambil tersenyum. Aku kembali duduk di depannya. Dia kembali berkata “kamu jangan begitu ya.” Rayunya.
“begitu? Begitu apa maksudnya?” aku tidak mengerti.
“kau jangan terlalu dekat dengan anak baru itu.” jelas Jovan. Rupanya hal ini yang dia maksud. Sudah kuduga juga sih.
“Loh? Kenapa? Aku Cuma berteman kok. Tidak lebih…” kilahku. “aku pasti sudah gila kalau benar-benar menyukainya. Aku Cuma suka kamu Jo…”
Jovan terdiam, membuka mulutnya ketika sesuap eskrim akan masuk ke dalam mulutnya. “Suka? Bukan cinta?”
Aduuh, aku benci kata itu. ‘cinta’ terdengar seperti aku ini seorang pujangga saja. Tapi, memang benar sih. Suka berbeda dengan cinta. Makna kata ‘cinta’ lebih dalam daripada ‘suka’ semoga saja Einstein atau ilmuwan hebat di dunia juga menafsirkan sama denganku. Sehingga aku mempunyai taraf sama dengan mereka. bukan sama dengan pujangga.
Aku mengkoreksi ucapanku—dengan terpaksa. “ya, maksudku cinta.” Jovan tersenyum.
“kau mau?” tawarnya. Dia menyodorkan semangkuk eskrim vanilla miliknya. Sebenarnya aku mau kalau disuap. “kalau mau, aku akan minta sendok baru…” ucapnya.
“tidak usah deh…” jawabku. Dia benar-benar tidak sensitive.
***
Malam ini, malam minggu. Sumpek juga semalaman libur ini Cuma tinggal di rumah menemani sang ibu kos tercinta menonton sinetron—yang bercerita tentang seorang putri yang ditukarkan dengan sekarung beras—Sementara anak kos lain sebagian ada yang keluar jalan-jalan dengan pacarnya. Dan sebagian lagi, sedang diapeli oleh pacarnya di ruang tamu. Jovan? Jangan harap dia mengajakku jalan. Dalam tiga bulan ini, tercatat baru dua kali dia mengajakku bermalam mingguan. Itupun tidak asik, malah sebal, apalagi melihat pasangan-pasangan muda lain yang sedang romantis-romantisnya, Jovan bahkan tidak pernah menggenggam tanganku. Tiba-tiba, ketika asyik terhanyut dalam cerita sinetron yang dibintangi oleh nickita wali itu, Sebuah pesan masuk dalam hapeku. Dari Lilo. Dia mengajakku untuk keluar.
Aku menimbang-nimbang dengan kritis. Akhirnya aku menerima ajakannya itu. selain untuk menghilangkan rasa penat dan jenuh, lagipula Jovan tidak mungkin mengajakku kemana-mana. Aku masuk ke kamar, berganti baju, dan keluar ketika diriku sudah sangat rapi.
“mau kemana Ber?” Tanya tante Mirna ketika aku minta tangannya untuk aku cium.
“keluar sebentar tan… bosan di rumah terus. Maaf ya tan, gak bisa nemenin. Lain kali aja ya…” ucapku ketika mencium tangan Tante Mirna yang sudah kuanggap Ibuku sendiri.
Tante Mirna tersenyum. “Ya, gapapa. Lagipula kamu kan jarang sekali keluar. Hati-hati ya…” tumben dia baik sekali, padahal hobbynya marah-marah tiap hari. Jangan-jangan dia tidak suka kali ya, ketika kau temani dia menonton sinetron. Ah, tidak peduli…
Aku beranjak keluar rumah. Menunggu Lilo di teras rumah yang katanya akan datang menjemput. Anak-anak lain mengintip dari balik jendela, mereka asing dengan apa yang sedang kuperbuat, yang mereka tahu aku adalah anak rumahan yang tidak pernah keluar malam. Tidak seperti mereka yang sepertinya sedikit demi sedikit sudah bermetamorfosis jadi kelelawar. Hiii, aku harus menutup leherku lebih sering. Takut-takut darahku dihisap. Apalagi aku suka jeruk, pasti darahku manis karena dipenuhi ekstrak jeruk florida. Itu akan membuat mereka semakin mengejar-ngejarku.
Sebuah Kawasaki ninja 250 r tiba-tiba berhenti tepat di depan gerbang rumah kosanku. Pengemudinya membuka helm yang bersarang di kepalanya, Lilo melambai dengan rambutnya yang acak-acakan karena tadi dia memakai helm. Tapi tetap tampan kok.
Aku menuruni tangga teras menuju gerbang itu. anak-anak lain masih saja mengintip dari baik gorden jendela. Mungkin mereka heran kenapa aku bisa pergi dengan cowok tampan ini, padahal yang mereka tahu pacarku adalah Jovan. Hahaha, aku rasa berjalan-jalan saja tidak harus dengan pacar. Teman bisa dianggap seseorang yang dapat kita percaya juga.
“sudah lama menunggu ya?” Tanya Lilo.
Aku menggeleng. “Baru saja keluar rumah.” Jawabku. “oh iya, mau kemana kita?” aku balik bertanya. “aku tidak boleh pulang terlalu malam soalnya…”
Lilo terlihat seperti sedang menimbang-nimbang. “Hmmm, kalau begitu sepertinya taman kota cukup seru juga. Bagaimana?” ajaknya. Aku mengangguk setuju sambil terenyum. Dia memberiku helm. Kemudian aku naik di jok belakang motornya ini. “pegangan.” Perintahnya. “aku tidak biasa bawa motor pelan.”
Aku mengikuti perintahnya. Aku menempatkan tanganku di kedua pahanya. Lilo malah menarik tanganku agar melingkar di perutnya. “pegang yang erat, atau kamu akan berguling-guling di aspal.” Suaranya sedikit teredam karena dia memakai helm. Memikirkan bagaimana jika aku berguling-guling bak karpet yang digulung membuatku semakin bergidik. Aku memeluk perutnya erat-erat. Perlu diketahui, perutnya keras, karena six pack nya. Gak percaya? Pegang tembok deh. Pasti keras…
Dalam satu tarikan gas, motor ini melaju cepat meninggalkan indekos ku tercinta, diikuti dengan sorot mata para penghuni kos yang penasaran kemana dan bersama siapa aku pergi.
Jovan? Dia sama sekali tidak menelpon atau mengirimiku pesan malam ini. Mungkin dia sedang belajar atau juga sedang asyik-asyiknya tidur di kamarnya yang luas itu. dasar cowok datar, batinku.
Bukannya udik, setelah Kawasaki Ninja 250 R yang dikendarai oleh Lilo melaju dijalanan Daerah bunderan HI, aku benar-benar senang bukan kepalang. Meskipun banyak sekali bangunan perkantoran antic di daerah ini, tapi tidak membuatku takut atau apalah. Justru semakin memperindah suasana malam hari ini. Aku menatap langit, awan bergelayut hitam. Selain karena memang cahaya bulan yang tidak begitu memancar, awan-awan itu juga sudah memiliki muatan air banyak. Kumulus-kumulus nimbus itu terus bejalan dengan berat terbawa angin.
“sepertinya akan hujan ya…” ucapku pada Lilo. Dia masih mengendarai motornya melewati daerah ramai Jakarta.
“Tenang saja… percaya padaku. Ini akan sangat cerah.” Yakinnya. “lagipula, sebentar lagi juga kita sampai.” Ucap Lilo lagi. Aku hanya terdiam mengangguk mengerti tanpa sempat bicara lagi.
Selang beberapa menit, argument Lilo benar-benar meleset. Tetesan air sudah mulai turun menyirami bumi. Lilo cepat-cepat mengedarai motornya sambil menambah kecepatan gasnya. “aduuh, hujan lagi. Padahal taman sudah ada di depan…” gerutu Lilo.
“yasudah, kita cari tempat berteduh di taman saja…” ucapku. Lilo masuk ke gerbang taman itu. sudah sepi ternyata. Mungkin karena hujan, padahal ini malam minggu. Menurut Lilo katanya setiap malam minggu taman ini akan dipenuhi oleh banyak remaja dan pasangan lainnya yang sedang menghabiskan malam minggu mereka. tapi, disini kami hanya melihat beberapa pedagang yang sudah menggulung tikar mereka dan membenahi barang-barang dagangannya. Lilo memarkir motornya, kami cepat-cepat mencari tempat berteduh.
“Ber!” Lilo memanggilku. Dia sedang berdiri di tengah hujan di depan sebuah rumah-rumahan kecil yang biasa dipakai anak-anak untuk bermain. Seluruh badannya sudah basah kuyup. Begitupun denganku. “Disini saja…” lanjutnya, aku mendekati Lilo dan masuk ke dalam rumah-rumahan kecil yang gelap itu tanpa menawar lagi. Lilo mengikutiku dari belakang.
Aku duduk dipojok kanan sambil memegang lututku karena kedinginan. Sementara Lilo duduk bersila di pojok kiri sambil menyalakan handphonenya agar memberi sedikit cahaya. Jika satu jam aku masih berada di tempat ini, aku yakin nyawaku sudah terbang karena hypothermia. “uhh… Gelap, Dingin.” Ringisku sambil gemetar.
Lilo menoleh, tatapannya seperti ingin meminta maaf. Tapi entah untuk apa. Dia mendekatiku. Membuka jaket kulit yang dipakainya. “pakai ini saja…” Dia menyodorkan jaket itu padaku. Aku menggelengkan kepala.
“percuma, jaketmu sudah terkena air hujan. Sama saja bohong. Itu basah…” ucapku.
“tidak, ini anti air.” Ucapnya. “dalamnya masih kering, hangat lagi.” Dia terus menyodorkan jaket itu. akhirnya aku memakainya. Lilo baik. Perhatian. Jovan? Entahlah, aku tidak yakin dia pernah melakukan hal seperti ini. Satu kalipun sepertinya tidak pernah. Bahkan setengah kalipun tidak jua aku ingat.
“kau masih kedinginan?” Tanya Lilo ketika melihat aku masih menggigil. Karena memang bajuku sudah basah kuyup. Aku mengangguk. Tanpa diminta, dia mendekatiku dan memelukku. Dan bodohnya, aku diam saja. Tangannya menarik kepalaku agar menyender pada dada bidangnya. Rasanya hangat… “bajuku masih kering karena tadi tertutup jaket. Mendekat padaku saja… kau bisa masuk angin…”
Aku diam, dia juga diam. Aku tidak mendengar sebuah degupan kencang dari dadanya. Sekalipun telingaku menempel pada dadanya. Tapi sebaliknya, jantungku benar-benar berdegup kencang. Mungkin dia tidak menganggap ini sebuah kejadian aneh. Aku saja yang terlalu berpikir kejauhan.
Lama, Hujan tidak kunjung reda. Kami masih dalam keadaan seperti ini diselimuti dengan keheningan. Akhirnya, Lilo mengangkat bibirnya. “maaf… kau jadi basah kuyup seperti ini.” Suaranya terdengar sangat menyesal.
Aku tersenyum. “tidak apa-apa, ehehe. Bukan salahmu…” jawabku. Suasana kembali hening.
Tiba-tiba. Cup! Lilo menempelkan bibirnya di keningku. Aku kaget. Dia mengusap rambutku dengan halus. Saraf sensorku pasti sudah rusak. Begitu bodohnya aku diam saja diperlakukan seperti ini, bahkan bukan oleh pacarku. Tapi jujur saja, aku senang dimanja. Lilo memberikan apa yang tidak aku dapatkan dari Jovan. Aku menikmatinya sekalipun ini tidak benar. Aku semakin melesak berada dalam pelukannya, seolah-olah badannya menghisapku badanku. Dia melepas bibirnya dari keningku, lalu mendekapku dengan erat.
Drrrrt, drrrrt… getar itu mengusik kami. Getar dari handphone Lilo. Aku kembali tersadar, dan membenahi sikap. Sementara Lilo mengangkat panggilan itu. panggilan dari mamanya.
“kita pulang sekarang. Sepertinya sudah reda.” Ucap Lilo setelah menutup panggilan masuknya. Aku mengangguk saja. “maaf, aku tidak bisa mengajak main malam ini, mama menyuruhku untuk pulang.”
“tidak apa-apa… aku juga harus segera pulang. kalau tidak tante Mirna bisa marah besar.” Ucapku. Malam itu, datar saja. Kami tidak bermain dan bersenang-senang sama sekali. Tapi, kejadian tadi membuat hatiku tak menentu. Lilo benar-benar pribadi yang lembut. Romantis juga. Aku meraba-raba keningku ketika dalam perjalan pulang. Lilo mungkin melihat apa yang kulakukan, tapi aku tidak peduli. Aku suka perlakuannya, asal dia tidak sampai mencium bibirku. Mungkin jika hal itu sampai terjadi, aku sudah pulang ketika hujan masih turun meninggalkan Lilo yang tulang betisnya sudah berpindah tempat dibawah tulang tengkoraknya.
***
Tadi malam, aku pulang jam sepuluh. Hera sudah terlelap tidur di single bednya. Tapi, tante Mirna masih asyik mahsyuk menonton sinetron yang sudah berganti tema. Dia tidak melihat aku pulang, tapi tahu ketika dia mendengar suaraku yang menyapanya ketika hendak masuk kamar. Malam itu, Jovan menelponku. Tapi aku malas untuk menjawab telponnya. Jadi aku biarkan saja. Dia terus melakukan itu entah berapa kali, sehingga aku terpaksa mengubah mode handphone ku menjadi senyap. Dan begitu panggilannya terasa bergetar, aku tahan tanda pagar handphoneku, sehingga panggilan masuk dari Jovan benar-benar tidak terasa, baik dari getarnya, apalagi suaranya.
Padahal Semalaman aku tidak bisa tidur, tapi aku malas untuk menjawab telpon kekasihku itu, entah kenapa yang kuingat hanya Lilo, bukan Jovan. Apa mungkin aku sudah menyukai anak baru itu? kejadian tadi malam benar-benar menganggu pikiranku. Aku pikir orang sesimple diriku tidak akan bisa dilanda galau kesumat seperti ini. Dan ternyata itu tidak benar. Mungkin perlu aku tulis dalam catatanku, kalau kecupan di kening bisa menyebarkan virus berbahaya yang menyebabkan insomnia berkepanjangan. Dan sedangkan kalau kecupan di bibir, sekalipun aku tidak pernah merasakannya, aku yakin hal itu bisa menyebabkan hancurnya system saraf pusat yang akhirnya mengirim stimulus kepada otak pusat tanpa disaring dalam neo cortex dan langsung masuk ke limbic. Sehingga membuat kita betingkah berlebihan seperti memukul, menampar, dan bahkan menendang orang yang mencium bibir kita. itu hipotesisku, aku yakin itu benar. Sangat yakin, karena fakta di sinetron selalu seperti itu.
Aku bangun dengan kepalaku yang pusing. Padahal aku tidak tidur terlalu malam. Mungkin aku masuk angin atau demam karena kehujanan tadi malam. Untung saja, hari ini hari minggu. Aku jadi tidak usah repot-repot membuat surat izin atau meminta surat dokter agar aku diizinkan untuk absent kelas. Aku menutup seluruh badanku dengan selimut dua lapis. Aku meriang.
Sepertinya, Hera mengadu pada tante Mirna kalau aku sedang terserang demam. Tante Mirna masuk begitu saja ke dalam kamarku sambil membawa semangkuk bubur buatan tangannya. Enak, biarpun hanya bubur tanpa tambahan kecap, krupuk, daging, dan serba-serbinya. Hera ternyata baik hati juga, dia memberitahukan keadaanku pada tante Mirna yang kini sedang mengompress keningku dengan lap basah. Terima kasih Hera, kau sudah kuanggap kakaku biarpun hubungan kita tidak begitu dekat. Dan terima kasih juga pada sosok seorang Ibu yang kudapati di rumah hangat ini. Tante Mirna, ibu kos galak, namun perhatian.
Ketika tante Mirna tengah menyuapiku, seseorang melongok dari balik pintu kamar. Wajahnya sangat aku kenal. Jovan. Dia datang, kenapa? Ini tidak biasanya. Biasanya dia datang hanya jika ada perlu saja, seperti meminta pendapatku tentang Hipotesis NASA yang mencengangkan itu, menanyakan baju mana yang harus dia gunakan untuk menghadiri pesta pernikahan, dan semacamnya. Tapi, maaf saja, selain karena aku sudah tidak punya feeling padanya, aku juga sedang dalam keadaan kurang fit hari ini. Aku sudah mempunyai kata-kata untuk menolaknya meminta pendapatku.
“kamu baik-baik saja?” Tanya Jovan. Dia masuk tanpa dipersilahkan. Tante mirna meninggalkan kami berdua. Aku mengangguk.
“Cuma, demam saja.” Aku menjawab dengan nada malas. Jovan mendekat ke ranjangku dan menempelkan telapak tangannya.
“aku menelponmu sedari tadi malam.” Ucap Jovan. “tapi kamu tidak kunjung mengangkatnya…” ooh, ternyata bukan masalah meminta pendapat. Ini hal lain. Lain lagi…
“aku sengaja.” Ucapku ketus. Jovan menatapku tidak mengerti. “aku pikir kita benar-benar harus berpisah saja…” Tidakkah ucapanku begitu tega? Tapi aku tidak peduli lagi.
“a-apa?!” Jovan benar-benar dibuat kaget dengan ucapanku.
“ya. Putus. Apa ada yang salah dengan telingamu? Sepertinya aku sendiri mengucapkannya dengan lantang sekalipun keadaanku sedang tidak sehat.” Aku terus berkata pedas. Jovan semakin tidak mengerti.
“ya, aku dengar. Tapi, kenapa?” tanyanya.
“sudahlah. Kamu jangan pura-pura tidak tahu, selama ini kamu menganggapku apa? pacar? Atau teman? Atau pembantumu hah?” wajahku semakin memerah. Demam ini membuat kepalaku semakin panas, ditambah dengan percakapan ini yang sepertinya akan berkahir buruk.
“sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Tentu kamu adalah pacarku…” Jawab Jovan. “sebaiknya kau istirahat saja, demam ini membuatmu berbicara ngawur.” Jovan beranjak pergi. Aku sudah tidak bisa menahan emosi lagi. Dengan penuh amarah aku melempar lap basah yang sedang dikompresskan dikeningku, sambil berurai air mata. Lap itu mengenai kepalanya. Dia langsung membalikkan tubuhnya, menatapku.
“Pergii saja sana!!” pekikku, sambil menangis. “kau tidak pernah menganggapku apa-apa kan?! Kau tidak pernah ingin tahu apa yang kuinginkan!! Huhuhuhu…” aku menangis sejadi-jadinya. Aku harap tidak ada yang mendengarku menangis di luar kamarku sana. Aku pasti akan sangat malu nantinya.
Jovan kembali mendekat padaku, dia memegang kedua pundakku. “memang apa yang kau inginkan? Aku tidak pernah tahu selain keinginanmu untuk bertukar tempat dengan Rahma.” Dia berkata tegas namun halus, nampaknya dia berusaha mengerti keadaanku, dia tidak ingin aku semakin menjadi-jadi jika dia ikut-ikutan membentak.
“aku ingin perhatianmu…” jawabku sedikit tenang.
Jovan terdiam. Lalu berbicara “aku selalu memperhatikanmu. Aku menjemputmu setiap kali aku sempat, aku membantumu mengerjakan tugas yang kau bilang sulit, lalu apa yang kau inginkan?…”
Aku menatapnya tajam. “perhatian bukan sebatas hal-hal yang mengutamakan kesolidaritasan! Tapi juga kontak fisik!! Kau tidak tahu itu??!!” bentakku tidak sabaran. “dimana kau pernah mengecup keningku? Memelukku? Melingkarkan tanganmu dipinggangku? Bahkan aku harus merasa iri melihat pasangan lain begitu mesranya sementara dirimu tidak pernah menggenggam tanganku sekalipun!!” aku mengacak-ngacak rambutku sudah seperti orang gila saja.
Jovan terdiam, mulutnya terbuka sedikit ketika mendengar ucapanku. Sepertinya dia benar-benar dibuat kaget. “a-aku…” sebaris kata keluar dari mulutnya. “aku tidak pernah menyangka bahwa kau menginginkan hal seperti itu. harusnya kau memberitahuku sejak dulu!” ucapnya.
“kau pikir aku gadis naïf dan lugu? Sehingga hal-hal seperti itu sangat jauh dari angan-anganku? Setiap wanita pasti ingin diperlakukan dengan penuh kasih sayang…!” entah bagimana kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Rasanya seperti aku sedang memuntahkan air. Mengalir begitu saja.
“aku, aku takut kau manjauhiku. Aku takut kau menganggapku seseorang yang tidak sopan terhadapmu. Aku hanya ingin memastikan kau tidak terganggu olehku saja.” Jawab Jovan.
“tapi, itu membuatku merasa terganggu.” Aku melunak karena aku sudah menyadari sesuatu.
“maaf…” ucap Jovan. “firasatku benar. aku sudah merasakan sesuatu yang tidak enak sedari tadi malam. Makanya aku menelponmu, aku khawatir padamu. Maaf kalau sikapku ini membuatmu merasa terganggu.”
Ya ampun, aku tidak menyangka. Apa yang dia lakukan selama ini ternyata semata-mata hanya ingin membuatku merasa nyaman dengannya saja. Aku benar-benar bodoh. Didepanku ini seseorang yang dengan tulus mencintaiku, memperhatikanku. Hanya saja aku yang tidak menyadarinya. Aku hanya bisa menyalahkan orang lain karena kecerobohanku sendiri. Tanpa sadar, air mataku yang semula sudah mulai mereda, kini kembali menganak sungai. “ma-maaaf…” ucapku ditengah isakan tangis. “maaaaf…” aku mengulanginya lagi.
Jovan mengusap lembut pipiku. “maafkan aku juga…” ucapnya lirih. Dia menarik badanku, lalu memelukku degan erat, seperti tidak ingin melepasku untuk selamanya. “maaf…”
Drrrrt, drrrrrt… entah kenapa, disetiap keadaan seperti ini, selalu aja suara handphone yang bergetar. Mengganggu. Kali ini, handhoneku yang menerima sms masuk. Jovan mengambilkannya untukku. Dia membaca nama yang tertera di layar handphoneku. Ekspresi wajahnya menjadi kembali murung.
“siapa?” tanyaku. Dia tidak menjawab. Tangannya seperti menekan tombol oke, untuk membaca isi sms itu. kurang dari satu menit, dia menyerahkan handphone itu padaku. Dia benar-benar sudah membaca sms itu.
“sebaiknya aku pulang sekarang…” ucap Jovan. Matanya memerah, seperti menahan tangis. Bau kali ini aku melihat seorang pria menangis. Terlebih itu adalah Jovan, pacarku. Aku membaca pesan itu. Dari Lilo…
Isinya,
Maaf, telpon tadi malam mungkin membuatmu merasa terganggu. Aku benar-benar minta maaf. Aku sangat menyesal, seharusnya aku bisa memeluk dan menghangatkan dirimu lebih lama lagi. Kuharap kita bisa pergi jalan berdua seperti tadi malam sebagai seseorang yang lebih dari teman. Aku suka kamu Ber… Berliana Nasution. Sejak pertama melihatmu bertukar tempat duduk dengan Rahma, kau duduk di depanku. Hatiku tertawan ketika itu juga.
Tangaku gemetar, Jovan baru saja keluar dari kamarku. Dia pasti merasa sakit hati mengetahui aku berpulakan dengan Lilo tadi malam. Dengan tergopoh-gopoh, aku berlari menyusul Jovan. Tapi kakiku begitu lemas, sehingga hanya bisa berjalan pelan. Ketika aku memanggilnya dari pintu depan, Dia sudah masuk ke dalam mobilnya, tidak mau mendengarkan penjelasanku.
Maafkan aku Jo… batinku menyesal. Aku benar-benar bodoh…
***
Sudah lewat tiga minggu sejak kejadian itu. ini sudah hampir satu bulan. Lilo sudah mendengar penjelasanku, dia sangat menyesal. Tapi itu bukan sepenuhnya salah dia, ini salahku juga. Kami sepakat untuk menjadi teman, teman dekat saja, tidak lebih.
Sementara itu, sudah lewat tiga minggu pula aku tidak melihat Jovan lagi. Dia absent. Dia tidak pernah menjawab panggilanku, tidak pernah membalas e-mailku, smsku, pesan dindingku, mentionsku. Aku komen blog pribadinya, ketika itu pula dia tidak pernah update lagi artikelnya. Apa aku benar-benar masalah kini baginya? Aku tahu aku salah, dan mungkin Jovan berpikir akan lebih baik jika dia melupakanku. Ini tidak benar bagiku. Aku tidak ingin melupakannya. Tapi, apa mau dikata? Mungkin Jovan benar-benar sudah membenciku. Sekarang aku tahu, bahwa sinetron benar-benar mengambil intrik cerita dari kehidupan sehari-hari. Contohnya aku. Aku yang ditinggal oleh Jovan pacarku yang sudah aku sia-siakan. Aku menyesal…
Hanya satu cara yang bisa kulakukan. Selama ini aku begitu pengecut, untuk tidak mau melakukan hal ini. Aku harus datang ke rumahnya. Siang ini juga, pulang sekolah.
***
“eh, Non Berlian…” Sapa Bi Dindis, assistant rumah tangga keluarga Jovan yang menyambutku di depan pintu gerbang. “Den Jovan ada di taman belakang non… langsung ke sana aja kalau mau ketemu.” Tawarnya. Dia sudah tahu apa tujuanku datang ke rumah besar ini.
“Oooh, iya bi. Antar aku ya…” ucapku. Bi Dindis berjalan dahulu di depanku seperti seorang pemandu. Padahal aku sendiri sudah hapal jalan menuju halaman belakang rumah besar keluarga Jovan ini. Setelah sampai, dia menunjuk pada seseorang yang sedang membelakangi kami. Seorang remaja laki-laki yang tengah duduk diam, di bawah pohon. “itu non… Den Jovan sudah beberapa minggu ini sering duduk di bawah pohon itu. padahal sudah bibi bujuk supaya jangan diam di tempat seperti itu. tapi susah nurutnya…” Ucap Bi Dindis padaku.
Aku benar-benar kaget melihat begitu merananya Jovan. Badannya terlihat agak kurus dari tiga minggu lalu aku bertemu dengannya. “memang, tante sama Om kemana Bi?” tanyaku.
“Lagi ke luar negri, sudah satu bulan yang lalu. Katanya ada bisnis…” jawab Bi Dindis yang berbadan agak tambun namun memiliki naluri keibuan itu. “kasian den Jovan non… coba non bujuk dia. Non kan teman dekatnya, mudah-mudahan aja den Jovan mau kalau Non yang minta…” lanjut Bi Dindis. Aku mengangguk pelan. “makasih non, bibi kembali ke dapur dulu…” Bi Dindis kemudian pergi meninggalkan aku dan Jovan yang tidak tahu keberadaanku di taman ini berdua.
Aku memandang Jovan dari kejauhan, mungkin selama satu bulan ini dia tidak mempunyai seseorang yang begitu dekat selain Bi Dindis. Orang tuanya pergi untuk urusan bisinis, sedangkan aku? Malah membuatnya semakin merana. Aku berpikir ternyata begitu jahatnya aku, aku punya hak apa untuk membuatnya seperti ini? Mungkin orang tuanya sendiripun tidak melakukan hal setega seperti apa yang kulakukan.
Tapi, bagaimanapun, aku harus berbicara padanya entah bagaimana cara atau akhirnya, aku tidak peduli. Disini aku yang salah, sedang Jovan adalah korban. Aku sudah mempunyai rencana. Entah akan berhasil atau tidak. aku mendekat pada Jovan, lalu berhenti ketika jarakku sudah sekitar 3 meter dari tempatnya berada. Sambil menarik nafas, aku membuka mulutku.
“I remember what you wore on the first day.” Aku bernyanyi parau, padahal baru satu baris lagu yang kunyanyikan. Aku sudah tidak kuat menahan air mata yang hendak keluar dari mataku ini. Tenggorokankupun terasa tercekat. Jovan kaget dan membalikkan wajahnya menatapku. Liriknya dalam, mengingatkanku saat pertama kali aku bertemu dengan Jovan, satu tahun lalu. Di Aula Olahraga.
Tanpa peduli lagi dengan suaraku yang fals, aku melanjutkan baris selanjutnya dari lagu ‘two is better than one’ yang dinyanyikan oleh Boys like girl feat Taylor Swift. Jovan menatapku, aku melihat bibirnya sedikit terbuka karena tidak percaya.
“You came into my life and I thought “Hey, you know, this could be something”.” benar-benar! Suaraku ini… mataku semakin deras meneteskan air mata yang kini sudah beranak sungai. Ya Tuhan… kenapa ada lagu yang liriknya begitu sama dengan apa yang aku dan Jovan lakukan dahulu?
Jovan tiba-tiba tersenyum. “maaf, aku tidak punya uang receh…” dia bercanda. Aku senang, ternyata dia tidak begitu terlunta dalam lukanya.
Aku melanjutkan laguku. “Cause everything you do and words you say, you know that it all takes my breath away and now I’m left with nothing…” kali ini dengan isakan tangis yang mulai sering terdengar. “hiks, hiks…” mendengar aku sendiri melafalkan lirik baris ketiga lagu ini, membuatku semakin menyesal. Aku bodoh, karena telah meninggalkan seseorang yang ternyata mempunyai hal lebih dari syarat yang aku tuntut.
“Hey, sudahlah… suaramu parah. Gendang telingaku bisa sakit… memangnya kamu mau bertanggung jawab?” Jovan kembali tertawa. Dia terlihat tampan sekali ketika tersenyum. Setiap orang akan begitu ketika mereka tersenyum.
Aku menjawab sebelum melanjutkan laguku kembali. “aku senang kau tertawa.” Sambil menyeka air mataku. “lagu ini, tanggung jawabku. Untuk mengganti apa yang telah kulakukan padamu.” Aku melanjutkan laguku kembali, kali ini pas di bagian refrain. “So maybe it’s true, that I can’t live without you. And maybe two is better than One…”
“Hey!! Tetangga sebelah kanan rumahku, adalah penggemar berat Boys like girl. Dan tetangga sebelah kiri rumahku, penggemar berat taylor Swift. Kamu bisa dibunuh jika mereka mendengar kamu bernyanyi seperti itu.” Ucap Jovan memotong laguku.
“tidak peduli!! Apapun untukmu aku rela mati.” Haaaa?? Aku tidak menyangka bisa berkata seperti ini pada Jovan. Terdengar lebay. Padahal aku tidak suka, jika harus berbicara seperti ini. Tapi, entah pergi kemana akal sehatku sehingga aku diam saja, ketika mulutku berucap sebaris kalimat yang menurutku berlebihan itu.
“But there’s so much time, to figure out the rest of my life. And you’ve already got me coming undone, and I’m thinking TWO IS BETTER THAN ONE!!!” aku menjerit sekeras-kerasnya pada kalimat akhir refrain itu.
Jovan tersenyum, menghampiriku. Dan berbisik. “I’m thinking so, Two is better than One……” Aku tersenyum menatapnya. Dia masih tersenyum menatapku. Apa dia tidak marah selama ini? Apa lukanya sudah benar-benar sembuh? Setidaknya, perlu berbulan-bulan untuk melupakan apa yang telah diperbuat oleh seseorang sehingga membuat diri kita sakit. Tapi Jovan? Dia pemaaf sekali…
“kau mau memaafkanku?” tanyaku.
Jovan terlihat seperti sedang berfikir. “tidak.”
Aku tersenyum lemah. “sudah kuduga…”
“tidak.” ulangnya lagi. “tidak baik berlarut-larut dalam amarah. Aku ingin bersamamu lagi…” Jovan meneruskan ucapannya. Aku membelalak tidak percaya, aku langsung melompat ke pelukannya. Dia membalas pelukanku.
“terimakasih…” kali ini air mataku yang berkata. “aku rindu pelukanmu tiga minggu lalu, rindu wajahmu, rindu perlakuanmu… tolong ingatkan aku jika aku membuat kesalahan fatal seperti tempo lalu, ketika itu terjadi lagi, aku sudah putuskan untuk tidak kembali padamu. Aku tidak pantas lagi untukmu. Kau orang yang baik…”
“akupun begitu. Tiga minggu tanpa melihatmu seperti kekuatanku hilang begitu saja. Tapi, hanya satu kali saja bertemu denganmu, energiku kembali pulih seperti semula. Tolong, jangan pernah pergi dariku lagi.” Jovan berkata sedemikian rupa.
“aku janji.” Ucapku. “Karena aku mencintaimu…” aku sudah tidak keberatan untuk menggunakan kata ‘cinta’ lagi dalam teknik berpacaranku. Aku tidak mempermasalahkan masalah pujangga atau ilmuwan itu lagi. karena pada hakikatnya, setiap manusia hidup untuk memperoleh cinta. Tolong catat kutipan ini sebagai hak patenku.
“aku juga…” bisik Jovan di telingaku. “aku cinta kamu… sejak pertama kali kamu membentakku untuk menyeka keringatku dengan tissue desinfektanmu di aula Olahraga.” Ucap Jovan. Aku tersenyum sambil melepas pelukanku. Kejadian itu, satu tahun lalu, dia masih ingat.
Aku jadi terbayang-bayang bagaimana dulu kami bertemu.
~Flashback~
Aku tidak pernah menyangka tugas bahasa Indonesia bisa membuat aku begitu repot sekali. Hanya disuruh membuat artikel saja sebenarnya. Tapi, guruku itu sudah menetapkan tema untuk judul artikelnya. Temanya “Olahraga SMA Global Insan Cendekia” aku benar-benar buruk dalam hal Olahraga, aku tidak tahu apa yang harus aku tulis ketika itu. mungkin kalau Pak Sony mau membebaskan tema artikelnya, aku pasti sudah selesai menulis beberapa lembar HVS hanya dalam dua menit. Tema artikelpun aku ambil dari yang benar-benar aku kuasai saja. Seperti Pembahasan singkat mengenai Referendum, dan system pemerintahan yang berlaku di dunia. Atau kalau bukan itu, fenomena pesawat tempur Amerika yang bisa menghilang dan beberapa fakta mengenai NATO akan aku ulas dalam artikel itu.
Tema yang diberikan oleh Pak Sony—guru bahasa Indonesiaku itu membuat aku harus meneliti langsung ke lapangan. Hari itu, hari Rabu. Tanggal 08 Juni 2011, aku tengah melakukan riset secara langsung di aula Olahraga. Ternyata sedang ada pertandingan basket antar kelas ketika itu. penontonnya rata-rata gadis centil dan anggota cheers saja. Aku yakin mereka pasti mayoritas pendukung Jovan—kapten basket sekolah yang sedang bertanding mewakili kelasnya—kelas X 2.
Aku ikut duduk memperhatikan pertandingan basket itu, berusaha mengerti apa yang sedang dicapai oleh para pemainnya selain memasukkan bola ke keranjang. Tapi, nihil… sepertinya aku harus mengadakan interview singkat terhadap para pemainnya.
Seusai pertandingan basket itu selesai, aku buru-buru pergi menuju ruang ganti. Tentu saja aku tidak masuk ke dalamnya, hanya menunggu di depan pintunya saja. Beberapa pemain dari kelas X 2 masuk, tadinya aku hendak mewawancarai mereka setelah mereka selesai berganti baju. Masalahnya, aku tidak tahan jika melihat sesuatu yang kuanggap itu kotor. Dan dalam pikiranku ketika itu, setiap anak basket adalah kotor, tafsirkan kata-kataku secara harfiah.
Sekitar lima belas menit aku menunggu, pemain basket dari kelas X 2 itu berhamburan keluar dari ruang ganti, mereka duduk-duduk di luar ruang ganti itu sambil ngobrol-ngobrol, minum, dan istirahat sejenak. Ini saatnya untuk mewawancarai mereka. baru saja aku melangkahkan kaki satu langkah, tiba-tiba aku tersadar dengan wajah-wajah mereka yang kusam. Aku kembali memundurkan kakiku. “Ya Tuhan, beri aku kekuatan…” batinku.
Sudah aku putuskan, akan aku pilih salah satu dari mereka yang mukanya paling bersih. Mataku menyapu seluruh penjuru ruangan ini. Mataku tertuju pada seseorang. Dia kapten basket yang digandrungi banyak cewek-cewek centil dan cewek-cewek cheers—Jovan. Cowok yang aku nilai wajahnya paling bersih diantara semua anggota klub basket ini.
Kakiku melangkah begitu saja menuju cowok yang sedang meminum air elektrolit. Cowok itu duduk sedikit ngangkang khas cowok. Aku berdiri di depannya tanpa menegur. Dia menatap wajahku, melihat dari ujung kaki sampai ujung rambut.
“Ah, mau minta tanda tangan ya?” Ucap Jovan ketika melihat aku sedang memegang buku dan pena.
Aku mengernyitkan halis. Anak ini, pede sekali? Pikirku kala itu juga. Aku menepis tebakannya. “ngga. Cuma mau wawancara sedikit sama lo.” Ucapku.
Dia tidak terkejut, hanya membultkan mulutnya saja. “ooo…” wajahnya tidak terlihat antusias. Aku hanya mengedikkan bahu dan menggeleng-geleng kepala saja.
Aku kemudian duduk di sebelahnya, membuka tas kecilku yang dikaitkan pada bahu kanan. Lalu mengeluarkan tissue desinfektan dari dalamnya. Aku menyodorkan tissue itu pada Jovan. “ini, usap dulu wajah lo. Kusam sekali…” ucapku.
Dia menatap aneh ketika aku melakukan hal itu. “apaan nih? ga mau. Udahlah, kalo lo mau wawancara, langsung aja ke pokok permasalahannya. Jangan bertele-tele…” dia menimpali dengan ketus. Aku bingung kenapa orang seangkuh dia bisa dijadikan idola di sekolah ini. Untung saja aku tidak sampai menjadi penggemarnya. Maaf sajalah…
“bukan begitu… gue ga bisa berdekatan sama orang yang ga steril…” aku membentaknya pelan. Lalu menyodorkan kembali tissue itu. “cepet pake!!”
Dia malah kebingungan. Mungkin baru pertama kali dia diperlakukan seperti ini oleh cewek. Hahaha, kasihan sekali… tapi kemudian dia mendorong tanganku agar menjauh dari dirinya. Aisshh! Sombong sekali!! “gue gak butuh! Kalo lo ga bisa deket-deket sama orang yang gak steril, lalu kenapa lo duduk di sebelah gue? Hah??” dia malah nyolot.
“Heh!!” aku berkacak pinggang di depannya. “itu karena diantara anggota klub ini lo yang paling bersih. Mungkin kalau gue wawancara temen-temen lo yang laen, gue udah mati berdiri.”
Jovan menunjuk mukaku dengan telunjuknya yang besar. “lo yang minta gue. Jadi lo yang mesti ikutin apa kata gue. Bukan lo ngatur-ngatur…” Hiiii, telunjuknya itu!! gak tahu apa kalo gue paling benci ditunjuk-tunjuk.
Plak!! Aku menepak kepalanya. “awww!” ringisnya sambil memegang kepala.
“heh, dengerin ya, nilai bahasa indo gue bisa jeblok Cuma gara-gara lo! So, apa susahnya lo pake tissue ini, toh nanti juga lo cuci muka kan?” aku membentaknya habis-habisan. Dia hendak menjawab. Tapi aku langsung memotongnya. “jangan mentang-mentang lo ganteng, pinter, jago basket, populer, lo bisa seenak-enaknya sama gue. Gue yakin, pacar lo pasti gak tahan sama sikap lo ini.” Aku lalu membuka bungkus tissue desinfektan itu dan mengeluarkan isinya, lalu memegang kepala Jovan yang meronta-ronta dan mengusap wajahnya dengan paksa sampai bersih.
“lo cewe apaan sih?” Tanya Jovan setelah wajahnya berhasil aku bersihkan.
“cewek steril.” Jawabku ngasal. “tuh kan, lo jadi makin ganteng kalo udah bersih… so, mari kita mulai wawancara.” Jovan hanya melihatku saja dengan senyum kecil. Aku langsung mengemukakan beberapa pertanyaan, dia menjawab dengan santai.
Tak sampai 15 menit, wawancaraku sudah aku cukupi. Karena aku rasa, aku sudah bisa membuat essai dan artikel dengan data-data yang sudah aku dapatkan. “makasih, gue pergi sekarang…” ucapku sambil berdiri. “oh iya, ubah sikap lo kalo lo mau cewe lo gak lari.” Lanjutku menyindir.
“gue belom pernah punya pacar…” jawab Jovan singkat. Aku membalikkan tubuhku, menatap wajahnya dengan wajah skeptis. Karena heran cowok seganteng dia ternyata adalah cowok ga laku. “oh, iya.” Lanjutnya. “kita belom kenalan kan?” dia menyodorkan jemari kanannya padaku. Aku menjabatnya dengan terpaksa. Aku malas menjabat tangan seseorang yang kotor apalagi sehabis olah raga seperti dia. “Muhammad Jovan Atmadipura.” Ucapnya sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya itu dengan senyuman sinis.
“iya, gue tau. Kenalin, gue Berliana nasution… anak kelas X 1” aku melepas jabatan tangannya. Lalu kembali mengambil tissue desinfektan dari plastik yang tadi sudah aku buka. Dan mengelap tanganku yang tadi bersalaman dengan Jovan. Dia tersenyum melihat kelakuanku. “sudah ya, gue balik sekarang. Chao…” ucapku buru-buru karena merasa risih diperhatikan seperti itu olehnya. Hiii, cowok ngeri.
Itulah, cerita pertama kali aku berkenalan dengan Jovan. Singkat cerita, satu bulan kemudian kami masuk di kelas yang sama, kelas XI Sosial 1. dia mengutarakan perasaannya terhadapku. Dan aku menerima dia begitu saja. Lumayanlah, aku pengen coba dapet pacar anak populer. Itung-itung aku belajar bersosialisasi dengan anak kotor, seperti Jovan yang hobby Olah raga.
~End of Flashback~
“ahahaha… kejadian itu?” ucapku mendengar apa yang diucapkannya. “sebenarnya, ketika itu aku sangat tidak suka padamu. Kau benar-benar membuatku jengkel!!”
Jovan menatapku dalam seperti boboho yang melotot ketika melihat ibunya hendak memukul. “apa? lalu kenapa kau mau jadi pacarku?” Dia sepertinya terkejut dengan apa yang kuucapkan.
Aku tertawa. “hahahahaha, sikapmu ituloh. Aku malah jadi penasaran padamu. Ketika itu, aku berpikir mengapa ada pria yang sangat tidak sensitif seperti dirimu.” Ucapku. Dia ikut tertawa. “sekarang aku tahu, kenapa kau belum pernah punya pacar selain aku…” aku melanjutkan.
“apa alasannya? Aku sendiri tidak tahu.” Ucapnya.
“Because, You are my destiny…” ucapku sambil tersenyum dengan wajah menengadah menatap wajahnya yang sedikit tinggi dari wajahku. Dia tersenyum.
“yeah, I am your destiny.” Timpalnya. “jadi, jangan coba untuk meninggalkanku. Karena, aku rasa hanya dirimulah yang bisa tahan dengan sikapku yang tidak sensitifan ini. Kita sudah ditakdirkan…”
Angin berhembus, halus membelai pipiku. Suhunya pas. Tidak terlalu banyak mengandung butiran air, dan tidak pula terlalu sedikit. Rasanya seperti dalam mimipiku tempo hari lalu. aku me-remake mindsetku tentang mimpiku itu, Lucas yang membelai rambutku sudah berubah menjadi Jovan. Dia menarik badanku agar kembali dalam pelukannya, bibirnya begitu saja menempel pada keningku. Dia benar-benar mencoba untuk menjadi seseorang yang aku dambakan.
Kau tidak perlu melakukan itu lagi, aku sudah mengerti bagaimana perasaanmu padaku sekarang. Ternyata kau lebih perhatian dari yang aku pikirkan…
-The End-
nice. like this :)
BalasHapusterimakasih :)
Hapusmbak itu cerpen apa novel kok panjangnya ngalahin jalan tol anyer ampe panarukan
BalasHapuskalo cerpen itu maksimal 1000 KATA la punya ente itu berAPA ?!!?!?!?!!?!??1!??!?!?!?#/[o04834746#@%#$%^@!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!